Destinasi Wisata Budaya Unggulan Bangka Belitung

Wisata budaya di Bangka Belitung kerap dikaitkan dengan keberagaman agama yang tersebar di Bangka Belitung.



Penduduk Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan beragama.
wisata budaya bangka belitung

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2015, persentase agama penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah Islam 88.71%, Buddha 4.49%, Kristen 3.37% (Kristen Protestan 2.06% dan Katolik 1.31%), Konghucu 3.30%, Aliran Kepercayaan 0.11% dan Hindu 0.01%

Keragaman suku, budaya dan etnis di Bangka Belitung telah lama berdampingan dan saling menopang baik dari segi ekonomi ataupun budaya.

Dan pastinya dengan keanekaragaman ini ada banyak sekali hal-hal yang dibawa dan dijadikan kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan.

Wisata budaya di Bangka Belitung


Ada banyak sekali tentunya acara-acara budaya yang bisa dijadikan wisata unggulan di Bangka Belitung.

Berikut umahliyu rangkum dari beberapa sumber untuk memberikan informasi kepada anda.

1. Nganggong

Tradisi Nganggung sering juga disebut dengan adat Sepintu Sedulang. Tradisi ini biasanya dilakukan pada upacara upacara keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Mauludan, Nisfu Sya’ban, dan pada kegiatan  Muharam.
nganggong
Poto : wonderfulpangkalpinang.info

Nganggung, merupakan tradisi gotong royong masyarakat di beberapa wilayah di Bangka Belitung dengan membawa makanan lengkap di atas dulang kuningan yang ditutup dengan tudung saji.

Tiap pintu rumah (keluarga) membawa satu dulang yang terbuat dari Kuningan, berisi makanan sesuai dengan status dan kemampuan keluarga tersebut.


2. Perang Ketupat

Perang ketupat di Bangka Belitung, tepatnya di pulau Bangka sering disebut dengan ruah tempilang.

Acara ini diselenggarakan setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Tempilang, Bangka Barat.
perang ketupat
Poto : humas.babelprov.go.id

Pada saat acara ini berlangsung, penduduk sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara ini akan membuka pintu rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka.

Perang ketupat adalah acara inti dari semua prosesi dari acara. Tujuan utama digelar perang ketupat sebagai kesejahteraan masyarakat.

Semua orang-orang berkumpul di Pantai Tempilang, kemudian pada saat meriam dinyalakan bertanda acara dimulai. Orang-orang saling melempar ketupat ke setiap orang yang mereka temui.

Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka. Banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini

3. Ceng Beng

Sembahyang Kubur, dalam Bahasa Tionghoa disebut  Pinyin: sǎomù adalah suatu tradisi orang Tionghoa mengunjungi dan membersihkan makam leluhur, orang tua atau keluarga.

Selain itu, sembahyang kubur juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara. Dalam Bahasa Hakka, sembahyang kubur dikenal dengan istilah Kua Ci.

Pada umumnya sembahyang kubur dilakukan pada Festival Qingming, namun ada juga sebagian orang Tionghoa di berbagai tempat yang melakukan sembahyang kubur selain pada saat festival Qingming.

Selain di Daratan Tiongkok, sembahyang kubur juga dilakukan di Taiwan, Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, dan negara-negara yang terdapat orang Tionghoanya.

Di Indonesia, sembahyang kubur dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada saat festival Qingming dan pertengahan bulan 7 dalam kalender Tionghoa atau yang dikenal dengan  pinyin: qī yuè bàn, Chit Nyiat Pan (Hakka), Chi Gwe Pua (Hokkien).

Sembahyang kubur pada festival Qingming dilakukan selama 15 hari dengan festival Qingming sebagai hari terakhir atau puncak perayaannya,
cheng beng
Poto : visitbangkabelitung.com

sedangkan sembahyang kubur pada pertengahan bulan 7 dimulai dari tanggal 1 sampai 15 kalender Tionghoa. Bulan ke-7 dalam kalender Tionghoa disebut sebagai Bulan Hantu.

Pada hari ke-15 atau pertengahan bulan 7 kalender Tionghoa, diadakan perayaan untuk memberi makan kepada arwah-arwah yang tidak ada keluarga atau yang ditelantarkan oleh keluarganya

4. Peh Cun

Peh Cun merupakan salah satu budaya yang dibawa oleh etnis China, dimana perayaan Peh Cun selalu diadakan setiap tahunnya di tanggal 5 bulan ke 5 dalam penanggalan China (mohon dibenarkan kalo salah...hehe)

Perayaan Peh Cun sendiri diadakan di tepi pantai

Ada beberapa hal yang menarik dan unik yang selalu dinantikan dalam perayaan Peh Cun ini.

1. Makan Bak Chang.
2. Telur ayam mentah berdiri tepat pukul 12.00.
3. Fenomena puncak pasang surut air laut sejauh kiloan meter.

5. Milang Ari

Milang Ari adalah upacara yang berhubungan dengan crisis rate, atau upacara yang berhubungan dengan tahapan tahapan kehidupan manusia khususnya yang berhubungan dengan upacara kematian.
milang ari
Poto : wonderfulpangkalpinang.info

Pihak keluarga yang meninggal dunia mengadakan sedekah untuk mengenang yang meninggal dunia.

Dimulai pada hari pertama sampai hari ketujuh, kemudian pada hari ke dua puluh lima (Nyelawe), empat puluh hari, seratus hari (Nyeratus) kemudian seribu hari (Nyeribu), kemudian dilaksanakan pada tiap tahun yang disebut Naun.

6. Mandi Belimau

Mandi Belimau merupakan tradisi menyambut bulan Ramadhan oleh masyarakat Melayu khususnya masyarakat Bangka Belitung dan Riau.
mandi belimau

Tradisi mandi Belimau merupakan tradisi yang dilaksanakan turun-temurun hingga saat ini. Mandi Belimau artinya pencucian atau pensucian lahir dan batin menggunakan air limau.

Di Bangka Belitung, tradisi mandi Belimau sudah ada sekitar 300 tahun yang lalu dan sempat berhenti. Namun, tradisi ini dijalankan lagi sejak 8 tahun yang lalu.

7. Nirok Nanggok

Merupakan acara penangkapan ikan secara masal yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kembiri di bagian Selatan Pulau Belitung.
nirok naggok
Poto : dispar.belitungkab.go.id

Acara ini hanya diadakan pada musim kemarau panjang antara bulan September s.d Oktober. Alat yang digunakan berupa "Tirok dan Tanggok"

Tirok : Sebuah tongkat kayu yang dibagian pangkalnya dipasang mata tombak tanpa penyangga (ruit) terbuat dari Besi.

Tanggok : Sebuah wadah terbuat dari rotan yang dijalin, digunakan untuk menanggok (menangkap) ikan.


Ritual ini merupakan wujud kearifan lokal dalam melestarikan ekosistem sungai karena penangkapan ikan dilakukan di sungai yang telah ditentukan dan diatur oleh dukun air.

8. Lesong Panjang

Lesong Panjang adalah nama dari alat dan permainan itu sendiri. Biasanya dimainkan pada saat musim panen padi tiba.
lesong panjang
Poto : dispar.belitungkab.go.id

Alat utamanya adalah sebuah lesong terbuat dari kayu pilihan yang bersuara keras dan jernih.

Panjang lesong bervariasi antara 1-1,5 meter dengan diameter 25cm-30cm. Alat untuk memukul lesong dinamakan "Alu" dan panjang bervariasi dari 75 cm hingga 120 cm dengan diameter 4 cm hingga 6 cm. Lesong dibuat dalam berbagai model dan ukuran sesuai dengan selera pemain.

9. Maras Taun

Maras Taun berasal dari kata "maras" yang artinya Memendekan. Sedangkan "Taun" berasal dari kata Tahun.
maras taun
Poto : dispar.belitungkab.go.id

Maras Taun diadakan setahun sekali oleh masyarakat desa di Belitung sebagai wujud rasa syukur setelah melewati musim panen padi.

Maras Taun merupakan pertanggungjawaban dukun kampung kepada masyarakat. Ritual utama dalam acara Maras taun adalah : Doa awal, tepong tawar, dan doa akhir atau penutup.

10. Muang Jong

Muang Jong berarti melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya berisikan sesajian.
muang jong
Poto : dispar.belitungkab.go.id

"Ancak" yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan tempat tinggal.

Tradisi budaya ini secara turun-temurun dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung menjelang musim Tenggara, sekitar bulan Agustus atau September.

Dimana angin dan ombak laut pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan. Ritual Muang Jong dengan bertujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa, terutama di laut.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

loading...

Tips dan Trik Photoshop

Photoshop Tutorial

Photoshop

Informasi Photoshop